CIANJUR/Penahukumnews-com Kisah perjuangan seorang ibu tunggal bernama Novi, warga Kampung Kerenceng, Desa Sukakerta, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengundang perhatian dan keprihatinan masyarakat. Di tengah kondisi kesehatan yang semakin menurun, Novi harus berjuang menghadapi penyakit autoimun yang diagnosis terakhirnya mengarah pada Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang lebih dikenal dengan penyakit lupus.
Di balik perjuangannya melawan penyakit tersebut, Novi juga harus menghadapi kenyataan hidup yang tidak mudah. Sebagai seorang ibu tunggal yang tidak memiliki pekerjaan, ia kini membutuhkan perhatian dan dukungan agar dapat kembali memperoleh pelayanan kesehatan secara berkelanjutan.
Informasi mengenai kondisi Novi mencuat melalui unggahan akun Instagram @nadiazakiahh, yang menyampaikan permohonan kepedulian kepada pemerintah daerah, pemerintah provinsi, serta masyarakat luas agar memberikan perhatian terhadap kondisi yang dialaminya.
Berdasarkan keterangan dalam unggahan tersebut, Novi sebelumnya telah mendapatkan rujukan untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Namun, proses pengobatannya dilaporkan terhenti selama kurang lebih tiga bulan karena terkendala keterbatasan biaya.

Kondisi kesehatannya disebut semakin memprihatinkan. Tubuh Novi dilaporkan mengalami kekakuan sehingga untuk bangun dari tempat tidur saja membutuhkan bantuan orang lain. Keterbatasan fasilitas juga menjadi persoalan tersendiri bagi keluarga. Bahkan, karena belum memiliki kursi roda yang memadai, keluarga terpaksa memanfaatkan kursi plastik yang dimodifikasi sebagai alat bantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
KENDALA BIAYA TRANSPORTASI MENUJU RUMAH SAKIT
Selain biaya pengobatan, persoalan transportasi menuju rumah sakit di Bandung juga menjadi beban yang harus dihadapi keluarga.

Dalam unggahan tersebut disebutkan bahwa keluarga pernah dikenakan biaya sekitar Rp600 ribu untuk satu kali perjalanan menggunakan ambulans desa. Dengan demikian, biaya perjalanan pulang-pergi diperkirakan mencapai Rp1,2 juta.
Namun, informasi mengenai besaran biaya transportasi tersebut masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari pihak terkait agar mendapatkan kejelasan.
Saat ini, Novi diketahui tinggal bersama kedua orang tuanya. Dalam kondisi kesehatannya yang membutuhkan perhatian, keberadaan keluarga menjadi salah satu penopang utama dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
HARAPAN KEPADA PEMERINTAH DAN DINAS TERKAIT
Melalui unggahan tersebut, Nadia Zakiah berharap adanya perhatian dan langkah nyata dari Pemerintah Kabupaten Cianjur, khususnya Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian dan Wakil Bupati Ramzi, serta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan instansi kesehatan terkait.
Harapan tersebut terutama menyangkut pendampingan medis, kepastian akses pengobatan, fasilitas kesehatan yang dibutuhkan, serta kemungkinan bantuan transportasi agar Novi dapat kembali menjalani pemeriksaan dan pengobatan sesuai anjuran tenaga medis.

Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur bersama instansi sosial terkait juga diharapkan dapat melakukan penelusuran dan verifikasi langsung terhadap kondisi Novi, sehingga kebutuhan yang mendesak dapat diketahui dan ditindaklanjuti sesuai ketentuan program bantuan yang tersedia.
Kisah Novi menjadi pengingat bahwa masyarakat yang sedang menghadapi persoalan kesehatan dan keterbatasan ekonomi membutuhkan perhatian serta akses pelayanan kesehatan yang layak.
Di tengah perjuangan tersebut, ada seorang anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan kehadiran seorang ibu. Harapan keluarga tentu sederhana, yakni agar Novi mendapatkan kesempatan untuk kembali menjalani pengobatan dan memperoleh penanganan medis yang dibutuhkan.
Semoga melalui pemberitaan ini, kepedulian berbagai pihak dapat tergerak untuk membantu meringankan beban keluarga Novi. Sebab, persoalan kesehatan bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga, melainkan juga membutuhkan kepedulian bersama sesuai pera
Pewarta : (DK Korlap Jabar)
Editor : Hermansyah









