BOGOR penahukumnews.com— Keterbatasan fasilitas sekolah dasar negeri (SDN) masih menjadi persoalan pendidikan yang dirasakan masyarakat di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor.
Kondisi tersebut salah satunya terjadi di Desa Batulayang, Kecamatan Cisarua. Hingga kini, desa tersebut hanya memiliki satu sekolah dasar negeri, yakni SDN Batulayang.
Di sisi lain, jumlah peserta didik terus meningkat. Saat ini tercatat sebanyak 815 siswa menempuh pendidikan di sekolah tersebut. Jumlah itu dinilai telah melampaui kapasitas daya tampung sekolah.
Kepala Desa Batulayang, Iwan Setiawan, mengatakan persoalan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah desa. Pertumbuhan penduduk yang terus berlangsung turut berdampak pada meningkatnya jumlah anak usia sekolah.
“Sehingga saat ini, SDN Batulayang memiliki anak didik sebanyak 815 siswa. Ini sudah melebihi kapasitas,” ujar Iwan, Jumat (9/10/2026).
Keterbatasan Ruang Kelas, KBM Dibagi Tiga Shift
Membludaknya jumlah siswa membuat kegiatan belajar mengajar (KBM) di SDN Batulayang harus dilakukan secara bergantian.
Keterbatasan ruang kelas memaksa sekolah menerapkan tiga shift pembelajaran agar seluruh siswa tetap dapat mengikuti kegiatan pendidikan.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya ketimpangan antara jumlah peserta didik dengan kapasitas sarana pendidikan yang tersedia.
Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sebagian warga memilih menyekolahkan anak mereka ke Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebagai alternatif.
Desa Batulayang Dinilai Butuh Tambahan SDN
Iwan menilai keberadaan satu SDN untuk melayani kebutuhan pendidikan masyarakat Desa Batulayang sudah tidak lagi ideal.
Menurutnya, pertumbuhan penduduk dan jumlah anak usia sekolah perlu diimbangi dengan penambahan fasilitas pendidikan, khususnya sekolah dasar negeri.
“Idealnya di desa kami ada dua, dan keterbatasan sekolah ini sudah berlangsung cukup lama,” tuturnya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut dengan menambah unit sekolah dasar negeri di Desa Batulayang.
Penambahan sekolah dinilai penting agar persoalan kelebihan siswa tidak terus berulang dan proses belajar mengajar dapat berlangsung lebih optimal.
Pewarta : (Din2)
Editor : Hermansyah









