SUKABUMI penahukumnews.com– Sebanyak 27 warga Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengalami diare hampir secara bersamaan. Kondisi tersebut mulai dikeluhkan warga baru-baru ini.
Kejadian ini langsung mendapat perhatian aparat dan tenaga kesehatan. Dugaan sementara, gangguan kesehatan tersebut berkaitan dengan penggunaan air hujan yang sebelumnya ditampung warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kondisi kekeringan.
Kapolsek Gunungguruh, Ipda Suhendar, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia mengatakan informasi mengenai puluhan warga yang mengalami diare diperoleh dari Kepala Puskesmas Gunungguruh.
“Berdasarkan informasi dari Kepala Puskesmas Gunungguruh, terdapat 27 orang warga masyarakat yang mengalami sakit diare,” ujar Suhendar dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026) malam.
Suhendar menjelaskan, sebelum kejadian tersebut, warga Desa Cikujang mengalami kekeringan yang cukup panjang. Kondisi itu membuat sebagian warga berinisiatif menampung air hujan untuk digunakan dalam kebutuhan rumah tangga.
Dugaan sementara muncul setelah diketahui bahwa pada Jumat (2/10/2026) terjadi hujan. Air hujan kemudian ditampung menggunakan wadah, di antaranya drum bekas, dan dimanfaatkan warga untuk mencuci piring serta peralatan rumah tangga.
“Dugaan sementara berdasarkan informasi dari warga setempat, pada hari Jumat (2/10/2026) terjadi hujan. Kemudian air hujan tersebut tertampung dalam wadah berupa drum bekas. Air yang sudah tertampung itu dipergunakan untuk mencuci piring atau alat rumah tangga,” jelasnya.
Meski demikian, aparat maupun tenaga kesehatan belum memastikan bahwa air hujan tersebut menjadi penyebab diare yang dialami puluhan warga.
Sampel Air Diperiksa di Laboratorium
Untuk mengungkap penyebab kejadian tersebut, Puskesmas Gunungguruh telah mengambil sampel air yang digunakan warga. Sampel kemudian dibawa ke laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi untuk menjalani pemeriksaan.
Hasil pengujian tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran apakah terdapat kontaminasi pada air yang digunakan warga dan apakah memiliki keterkaitan dengan munculnya kasus diare.
“Air tersebut sudah diambil sampel oleh Puskesmas dan dibawa ke lab Dinkes Kabupaten Sukabumi. Sampai sekarang hasilnya belum keluar,” tegas Suhendar.
Dengan demikian, penyebab pasti diare yang menyerang 27 warga tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Peristiwa ini sekaligus menjadi perhatian serius di tengah persoalan kekeringan yang masih dirasakan masyarakat. Keterbatasan sumber air bersih membuat warga terpaksa memanfaatkan sumber air alternatif, sehingga aspek keamanan dan kelayakan air menjadi hal yang perlu mendapat perhatian.
Pewarta : (Rizwan/Din2)
Editor : Hermansyah









