Red penahukumnews.com- Majalengka adalah kabupaten yang terletak di bagian timur Provinsi Jawa Barat, diapit oleh Gunung Ciremai di sebelah timur dan berbatasan dengan Kabupaten Sumedang di barat, Kabupaten Indramayu di utara, serta Kabupaten Cirebon dan Kuningan di timur. Wilayahnya membentang dari dataran rendah pesisir di utara hingga perbukitan dan lereng gunung yang sejuk di selatan.
Majalengka dikenal dengan Kota Angin – julukan paling populer yang muncul karena kondisi geografisnya yang sering berangin kencang, terutama pada musim kemarau (Juni–September) saat angin dari arah Australia bertiup melalui celah pegunungan. Selain itu Majalengka juga dikenal dengan Kota Mangga Gedong Gincu – karena menjadi sentra penghasil mangga gedong gincu parietas unggulan yang rasanya sangat khas dan populer di kalangan penggemar buah. Majalengka juga dikenal dengan Kota Nyi Rambut Kasih – menghormati ratu legendaris dari Kerajaan Sindangkasih yang namanya abadi dalam asal usul tanah ini.
Karakteristik unik Majalengka terletak pada perpaduan angin kencang yang menyuburkan, mangga manis yang melegenda, dan memori kerajaan kuno Talaga Manggung yang menjadi akar peradabannya.
Konon, di wilayah yang kini menjadi Majalengka, pernah berdiri Kerajaan Sindangkasih yang dipimpin oleh seorang ratu cantik dan bijaksana bernama Nyi Rambut Kasih (dikenal juga sebagai Ratu Ayu Pangvidagan),. Kecantikan dan kesaktiannya termasyhur ke berbagai penjuru negeri.
Dalam cerita tutur yang diwariskan, nama Majalengka dikaitkan dengan peristiwa misterius di mana pohon-pohon maja di wilayah keraton buahnya tiba-tiba hilang atau tidak ada (lengka). Ada versi yang menyebutkan bahwa buah maja itu dipetik atau dicuri oleh pihak yang ingin memperistri sang ratu, sehingga sang ratu murka dan mengutuk atau menyembunyikan buah tersebut. Peristiwa “maja e langka” (buah majanya hilang/langka) inilah yang perlahan melekat menjadi nama tanah tersebut: Majalengka.
Teori Etimologi (Maja yang Hilang dan Raja yang Langka)
Nama “Majalengka” memiliki dua pendekatan etimologis yang sama-sama hidup dalam tradisi lisan dan kajian sejarawan:
1. Teori “Maja e Langka” (Maja yang Hilang/Langka)
Versi paling populer dan merakyat: nama Majalengka berasal dari frasa bahasa Sunda/Cirebon “Maja e langka”, yang berarti buah majanya hilang atau pohon maja yang langka. Hal ini merujuk langsung pada legenda Nyi Rambut Kasih dan Kerajaan Sindangkasih,.
2. Teori “Madya Langka” (Raja yang Langka/Unggul)
Versi lain yang bersifat filosofis-kerajaan menyebutkan bahwa Majalengka berasal dari kata “Madya Langka”, yang bermakna raja yang langka atau raja di atas raja bawahan (raja yang unggul). Sebutan ini konon merujuk pada sosok Pangeran Muhammad atau Prabu Pucuk Umum, raja Talaga yang membawa Islam ke wilayah ini.
Fakta Historis (Dari Talaga Manggung hingga Keputusan 1840)
1. Era Kuno: Kerajaan Talaga Manggung
Sejarah Majalengka tidak bisa dilepaskan dari Kerajaan Talaga Manggung, negara berdaulat yang terletak di wilayah selatan Majalengka. Nama “Talaga” sendiri dipercaya terinspirasi dari keberadaan sebuah danau (talaga) kuno, yang oleh masyarakat dipercaya sebagai Danau Sangiang.
2. Sumber Primer: Babad Talaga dan Besluit Kolonial
Sumber primer terpenting sejarah Majalengka adalah Babad Talaga, sebuah manuskrip kuno berisi perpaduan cerita dongeng romantis dan sejarah Talaga, Majalengka, serta Cirebon dalam bentuk tembang macapat. Untuk era administratif modern, sumber primernya adalah Besluit (Surat Keputusan) Pemerintah Hindia Belanda yang merekam penggabungan wilayah.
3. Hari Jadi Kabupaten Majalengka: 7 Juni 1490 M
Titik paling penting dalam sejarah spiritual dan politik Majalengka adalah masuknya Islam ke Talaga.
Data Sejarah:
– Tanggal: 7 Juni 1490 Masehi.
– Peristiwa: Momen ketika Prabu Pucuk Umum (Raja Talaga ke-2) resmi memeluk Agama Islam dan mendapat gelar serta pengakuan dari Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) dari Cirebon. Tanggal ini ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Majalengka yang merujuk pada tonggak peradaban Islam Talaga.
– Perayaan Modern: Pada Juni 2026 ini, Majalengka merayakan Hari Jadi ke-536.
– Catatan Administratif: Secara yuridis kolonial, Kabupaten Majalengka modern terbentuk ketika Kabupaten Talaga digabung dengan Kabupaten Sindangkasih pada tahun 1818, yang kemudian dikukuhkan melalui keputusan resmi pada 11 Februari 1840,.
Jadi, nama Majalengka memiliki akar etimologis yang puitis dan misterius: dari “Maja e langka” yang meratapi hilangnya buah maja di era Nyi Rambut Kasih, hingga “Madya Langka” yang memuliakan keagungan Raja Talaga.
Secara historis, Majalengka memiliki lapisan peradaban yang terdokumentasi melalui naskah dan tonggak Islamisasi:
1. Era Sindangkasih & Talaga Manggung – Kerajaan kuno yang terinspirasi Danau Sangiang dan dipimpin Nyi Rambut Kasih.
2. Era Islamisasi (1490) – Prabu Pucuk Umum memeluk Islam di bawah bimbingan Sunan Gunung Jati pada 7 Juni 1490, menjadi tonggak Hari Jadi.
3. Era Kolonial (1840) – Penggabungan Talaga dan Sindangkasih menjadi Kabupaten Majalengka modern.
4. Era Modern – Kota Angin, Kota Mangga Gedong Gincu, dan gerbang udara Kertajati.
Babad Talaga, Danau Sangiang, dan Makam Prabu Pucuk Umum menjadi sumber primer tak tergantikan: babad merekam romansa dan silsilah raja, danau merekam asal nama Talaga, dan makam merekam tonggak iman — semuanya hidup di tanah yang dijamah oleh angin dan dirindukan karena buah majanya.
Kini Majalengka bertransformasi menjadi gerbang udara Jawa Barat dengan beroperasinya Bandara Internasional Kertajati. Angin kencang yang dahulu hanya menjadi julukan, kini dipelajari secara ilmiah sebagai potensi energi, sementara Mangga Gedong Gincu tetap menjadi duta rasa yang mengharumkan nama Majalengka ke seluruh Nusantara.
Sumber Rujukan Primer:
1. Babad Talaga – Manuskrip kuno berisi sejarah, silsilah, dan kisah romantis Kerajaan Talaga, Majalengka, dan Cirebon.
2. Catatan Kerajaan Talaga Manggung & Danau Sangiang – Jejak geografis dan politik kerajaan kuno di selatan Majalengka.
3. Tonggak 7 Juni 1490 – Momen Islamisasi Prabu Pucuk Umum oleh Sunan Gunung Jati; dasar Hari Jadi Majalengka.
4. Besluit 11 Februari 1840 – Dokumen kolonial penggabungan Kabupaten Talaga dan Sindangkasih menjadi Kabupaten Majalengka.
Sumber : #sejarahkota #asalusul #majalengka
Editor : Hermansyah









