photo : Ilustrasi
TANGGAMUS–Penahukumnews.com Dana desa yang sejatinya bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat, kini justru memicu kegaduhan di Pekon Tanjung Siom, Kecamatan Limau. Proyek pengadaan ternak oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) curug picung setempat kini tengah menjadi sorotan tajam setelah alokasi anggaran fantastis sebesar Rp166 juta dikabarkan hanya berwujud enam ekor sapi.
Ketidakpuasan warga mencuat lantaran adanya kesenjangan lebar antara nilai uang yang dikucurkan dengan aset yang terlihat di lapangan. Secara matematis, jika anggaran Rp166 juta hanya menghasilkan enam ekor sapi, maka harga per ekornya mencapai angka yang tidak wajar untuk ukuran harga pasar lokal.
”Kami masyarakat dibiarkan buta informasi. Selain pembelian sapi, uang ratusan juta itu lari ke mana saja? Tidak ada keterbukaan,” ujar salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan karena alasan keamanan.
Ketertutupan informasi ini diduga kuat berakar dari struktur kepengurusan Bumdes yang sarat akan praktik nepotisme. Informasi yang dihimpun menunjukkan bahwa para pengelola Bumdes masih memiliki ikatan kekerabatan dekat dengan Kepala Pekon Tanjung Siom.
Kondisi ini memicu tudingan bahwa Bumdes telah berubah fungsi menjadi “lahan keluarga” daripada lembaga ekonomi kerakyatan. “Pekon ini terlihat adem dari luar, tapi gersang di dalam. Masalah ditutup-tutupi karena pengurusnya masih lingkaran keluarga Pak Kakon,” tambahnya.
Masyarakat kini mendesak Inspektorat Kabupaten Tanggamus dan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera turun tangan melakukan audit investigatif. Kehadiran pihak ketiga diperlukan untuk membedah laporan pertanggungjawaban yang selama ini dianggap misterius.
Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada Ketua Bumdes Pekon Tanjung Siom belum membuahkan hasil. Yang bersangkutan seolah “menghilang” dan menghindari awak media, yang justru semakin mempertebal spekulasi adanya praktik malapraktik anggaran.
Penulis : Parles
Editor : Redaksi









