Kemarau Panjang Menggerus Hasil Panen Padi Petani Cikalongkulon

 

 

Cianjur penahukumnews.com— Kemarau panjang mulai menunjukkan dampak nyata terhadap sektor pertanian padi di Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur. Terbatasnya suplai air diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan produktivitas gabah di tingkat petani mengalami penurunan. Kondisi tersebut tidak hanya menyentuh persoalan teknis budidaya, tetapi juga berimbas langsung terhadap pendapatan petani di tengah ketidakpastian musim.

 

Fenomena tersebut menjadi gambaran tersendiri mengenai rentannya sektor pertanian terhadap perubahan kondisi iklim. Di sejumlah lahan persawahan Cikalongkulon, keterbatasan air pada fase pertumbuhan tanaman membuat petani harus menghadapi risiko penurunan hasil panen. Situasi ini menjadi tantangan serius bagi petani yang menggantungkan keberlangsungan ekonomi keluarganya dari hasil produksi sawah.

 

Arman Suherman (55), warga Desa Nangaleng yang berprofesi sebagai petani, mengatakan bahwa kemarau panjang secara langsung memengaruhi hasil produksi padi. Menurutnya, persoalan utama yang dirasakan petani saat musim kering berkepanjangan adalah keterbatasan air yang dibutuhkan tanaman selama masa pertumbuhan.

 

“Pada musim kemarau biasanya penghasilan petani berkurang. Pertama, waktu tumbuh padinya kekurangan air. Intinya memang kekurangan air,” ujar Arman saat ditemui di Cikalongkulon, Rabu (9/9/2026).

 

Menurut Arman, tingkat penurunan hasil panen berbeda-beda, bergantung pada kondisi dan luas garapan masing-masing petani. Namun, rata-rata penurunan produksi yang dirasakan berada di kisaran 30 persen, sementara pada kondisi tertentu penurunannya dapat mencapai sekitar 50 persen.

 

Penurunan tersebut tentu menjadi beban tersendiri karena berbanding lurus dengan berkurangnya pendapatan petani.

Ia mencontohkan, apabila dalam kondisi normal hasil produksi dapat mencapai sekitar satu ton, pada musim kemarau panjang hasil yang diperoleh dapat menyusut menjadi sekitar tujuh kuintal.

 

Dengan demikian, terdapat kehilangan hasil yang diperkirakan mencapai 30 persen. Bagi petani, selisih tersebut bukan sekadar angka produksi, melainkan turut menentukan kemampuan memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya produksi pada musim tanam berikutnya.

READ  Berkas Perkara Lengkap, Kasus Kekerasan Seksual Taufik Hidayat Segera Disidangkan

 

Di sisi lain, Arman berharap pemerintah tetap memberikan perhatian terhadap keberlangsungan usaha tani, khususnya melalui kebijakan pupuk bersubsidi. Menurutnya, ketersediaan dan keterjangkauan pupuk menjadi salah satu faktor penting yang harus dijaga agar petani tetap mampu mempertahankan produktivitas di tengah tekanan akibat musim kemarau.

 

“Harapannya kepada pemerintah, masalah pupuk untuk petani, subsidinya harus dipertahankan. Karena sebelumnya juga pernah ada kelangkaan, persediaannya kadang berkurang,” kata Arman.

 

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada hasil panen, tetapi juga pada kepastian air, ketersediaan sarana produksi, serta dukungan kebijakan yang mampu melindungi petani dari berbagai tekanan di lapangan.

 

Pewarta :M.Mahdi (Ben)

Editor     : Hermansyah

banner 728x90 banner 728x90

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *